Posted by Joko Dolog on October 31, 2009
Sore tadi, sekitar pukul 3an pulang lewat jalan ahmad yani. Pas memasuki ruas jalan yang searah menuju cicadas, gila bener macetnya.Dari arah barat ga tertampung sampe mem’block’ jalan dari arah selatan. Seorang polisi tampak sebuk mengatur lalu lintas, padahal lampu lalu lintas menyala dengan normal (sering kali lampu lalu lintas di bandung tidak menyala dengan normal).
Setelah berhasil lewat perempatan, dan maju beberapa ratus meter, ku ketahuilah kemacetan di akibatkan angkot yang ngetem. Angkot kuning dan angkot putih sering ngetem disitu. Trus apa gunanya si bapak polisi tadi sibuk di lampu lalu lintas ya, lha wong penyebabnya ada di angkot ngetem.
Terus terang ga habis pikir, kenapa di bapak polisi ga membubarkan saja angkot yang ngetem. Toh lampu lalu lintasnya juga masih bekerja dengan baik. Bukan angkot yang ngetem yg membuat bingung, tapi cara berpikir polisinya. Logikaku sih lebih baik membubarka sumber kemacetan daripada sibuk ngatur2 kendaraan. Tetep aja bakal macet selama sumber macet belum di tertibkan. Hal serupa sering juga ku lihat di sekitar cicaheum.Jadi, logika polisi itu gimana sih ya?.
Posted in Not Serious, Serious | Tagged: Bandung, polisi, macet | Leave a Comment »
Posted by Joko Dolog on April 17, 2009
Setelah pemilu makin seru dan lucu saja ulah para politikus. yang peling menarik adalah masalah DPT (daftar Pemilih Tetap). Kekisuhan terungkap beberapa waaktu menjelang pemilu dengan adanya DPT ganda atau di bawah umur yang terdaftar.
Nah kenapa bisa begitu?. Untuk mendaftar kembali warga negara yang boleh memilih itu siapa yang tanggung jawab?. Siapa yang punya data penduduk yang boleh memilih?
Kalau menurut aku sih itu tanggung jawab negara, baik pemerintah maupun legislatifnya. Masa sampai warga negaranya aja tidak tahu?. Apa gunanya sensus, akta kelahiran, KTP/SIM/Passport?. Apa itu ga bisa di gunakan untuk mendata penduduknya. Aneh..negara kok ga tahu jumlah penduduknya, jangan-jangan jumlah pulau-pulaunya dan luas wialayahnya juga ga punya data. Jadi bukan semuanya kesalahan KPU (menurut aku lho).
Nah, siapa yang duduk di pemerintahan, di legislatif? . Kan kebanyakan dari orang-orang partai-partai juga. Itu yang seharusnya bertanggung jawab terhadap data penduduknya. Mereka ada untuk mengurusi negara dan rakyat bukan mengurusi bagi-bagi uang negara.
Sekarang malah paratai2 mempersoalkan DPT, coba tanya dulu deh apa yang dikerjakan wakil2 mereka selama 5 tahun terakhir.
Ah makin eneg aja nih liat para politikus kita nih,bukan ngurusin negara malah hanya ngurusin partai saja. Untungnya kemarin ada alasan untuk tidak nyontreng, malas euy ke KBRI, mayan jauh masalahnya (padahal penyebabnya malas) hehe.
Itu pendapat gue sebagai warga negara yang awam politik.
Posted in Not Serious, Serious | Tagged: DPT, KPU, pemerintah, pemilu | Leave a Comment »
Posted by Joko Dolog on March 24, 2009
Beberapa hari lalu aku lihat berita di TV yang bikin terharu. Sebuah Sekolah di jawa timur disita meja dan kursinya oleh si pembuat, sementara anak2nya mempertahankan sambil menangis. Ternyata pihak pemda menunggak biaya pembuatan meja kursi, sehingga si pembuat menyita dengan paksa. Kenapa bisa begini?waktu membuat pasti kan sudah di anggarkan?? Kamana uangnya ??.
Sementara itu disaat yang lama ribuan orang calon anggota legislatif menyebar janji mimpi-mimpi indah. Milyaran rupiah terbuang untuk kampanye mereka. Coba tebak? kira-kira apa yang akan mereka lakukan jika bener-bener terpilih?? apa mereka akan memenuhi janji-janjinya semasa kampanye?. Aku sangat menyangsikannya. Bahkan mungkin mereka melakukan seperti kasus di TV, korupsi sana-sini. Bahkan uang untuk siswa-siswa yang notabene generasi muda penerus bangsa mereka embat juga uangnya.
Coba tengok juga acara-acara di TV, aku bilang 90% acara TV Indonesia adalah sampah…..penuh sinetron dan acara yang menjanjikan mimpi, pengen terkenal mendadak, pengen suksaes mendadak. betul-betul mimpi kali ye….. Padahal mungkin milyaran bahkan trilyunan rupiah dibelanjakan untuk acara-acara tersebut.
Yah…..disamping uang milyaran dan trilyunan rupiah yang di hambur-hampurkan untuk menebar mimpi, ada generasi penerus bangsa yang terlupakan. Bahkan meja tempat mereka belajar saja tidak ada.
Teringat aku akan petuah bijak dari Kuan Tzu dan pernah aku tulis di buku tugas akhirku hampir 10 tahun lalu. Kuan Tzu berkata: Jika anda hanya memprihatinkan keadaan setahun mendatang, cukuplah Anda taburkan benih. Jika anda memprihatinkan keadaan sepuluh tahun mendatang, tanamlah sebatang pohon. Dan jika Anda memprihatinkan keadaan seratus tahun mendatang, berikanlah pendidikan yang benar kepada rakyat.
Trus bagaimana pendidikan di Indonesia? Apa jadinya Indonesia 100 tahun lagi?
Posted in Serious | Tagged: kampanye, Pendidikan | Leave a Comment »
Posted by Joko Dolog on January 26, 2009
Pengurusan NPWP baru dengan sunset policynya diperpanjang. Kemarin coba-coba buat NPWP pribadi sendiri,tinggal nunggu keluarnya kartu NPWP.
Yang masih mengganjal di otakku, apa perlunya kita membayar pajak penghasilan kita?. Penghasilan yang di dapat dengan susah payah, kucuran keringat dan air mata bahkan nyawa (yailah…:) ) kenapa harus di potong dan disetorkan ke negara? Toh juga ujung2nya juga habis di korupsi ma pejabat. Manfaat buat penyetor pajak pun kagak ada.Pembangunan negara yang di gembar gemborkan pun masih kalah ma jumlah korupsi pejabat negara.
Yang lebih bikin gonok lagi adalah para pegawai yang di gaji negara. Kita masyarakat menyetor sebagian penghasilan kita ke negara, tetapi orang-orang yang di gaji negara pun malah kerjanya tidak becus. Coba di survey, dilembaga pemerintah mana yang kita mendapatkan pelayanan yang baik dari pegawainya?. Boro boro di beri pelayanan yang baik, bisa-bisa malah di porotin. Itu ku alami sendiri, sebagai contoh ngurus perpanjangan passport di kantor imigrasi, pengurusan SIM. Kita yang cari duit susah payah kemudian sebagian ‘dipalak’ oleh negara, sementara yang mendapat gaji dari negara malah kerja seenaknya. Mungkin saja gaji yang di bayarkan ke pegawai negara itu sebagian diambil dari pajak penghasilan kita.
Seharusnya negara membenahi kinerja para pegawainya dulu. Rakyat hanya di minta memenuhi kewajibannya, sementara hak-hak mereka seolah diabaikan. “Jangan tanya apa yang negara berikan padamu, tetapi tanyalah apa yang bisa kamu berikan ke negara” apakah slogan itu masih relevan dan bisa dipenuhi? Lha wong yang kita kasih ke negara di ‘embat’ oleh pejabat negara kok, tetep aja negara sekarat……
Teringat beberapa tahun lalu seniorku mengeluh karena gajinya dipotong hampir 8 digit perbulan, sementara banyak teman dan saudara2nya yang kerja mati2an tetapi penghasilannya masih sedikit diatas UMR. Apa ga mending di salurkan langsung ke orang-orang sekitar dari pada lewat negara yang penuh dengan janji2 pembangunan? Yah..pembangunan yang tak kunjung datang, kalaupun datang dananya sudah di palak duluan oleh pejabat negara.
Lihat saja, pendidikanyang makin mahal, makin banyak pengangguran dan infrastuktur yang amburadul, itulah hasil nyata yang di bangun pemerintah.
Posted in Not Serious, Serious | Tagged: NPWP, pajak penghasilan, sunset policy | Leave a Comment »
Posted by Joko Dolog on October 5, 2008
Selamat hari Lebaran 1429H. Minal Aidin wal faizin, Mohon Maaf lahi dan bathin…
(meski rada telat tapi ga papa lah daripada tidak sama sekali hehe)
Posted in Not Serious, Serious | Tagged: Lebaran | Leave a Comment »