ITB=Producer Narsicus?
Posted by Joko Dolog on April 30, 2009
Banyak banget aku terima imel dan tentang posting dengan judul diatas, entah dari mana asalnya ku malas ngetrack lagi sumbernya. Terus terang pada awalnya aku ga tau apa arti kata narcis yang di fahami masyarakat umum,karena sering banget aku dengar orang berkata narcis.Maklum bukan anak gaul hehe….Beda pengertianku terhadap kata narcissism.
Ada yang lucu tentang tulisan itu ( yang entah siapa yg nulis, ada yang tau sumbernya?).
-Pemikiran yang berukuran Makro. Lho…emang siapa yang mikirin Indonesia kalau bukan orang2 Indonesia? Apalagi kalau yang di wawancarai baru lulus, dimana idealismenya masih OK punya. Emang di kampus lain hanya di ajarin memikirkan masalah nasional?. Jaman aku dulu, mahasiswa mau begadang hanya untuk ngobrol ngalor ngidul masalah politik, ekonomi,sejarah,ideologi dll. Apa untungnya? toh ga akan menambah nilai mata kuliahnya?. Tapi itu dilakukan tanpa mengharapkan sesuatu. Paling2 dapat mimpi Indonesia menjadi yang negara seperti dalam angan2 idealnya. Jadi kita (semua termasuk penulis tulisan dengan judul diatas yang aku yakin seorang sarjana) yang harus mikirin.
-Kandidat yang minta gaji (hanya) 5000 euro. Wah ini orang belum tahu dunia ya, coba lihat berapa banyak orang2 expat di Indonesia,yang ga tahu apa2 dan mungkin hanya lulusan high school atao kursus , mendapat gaji puluhan rubu US$. Meraka aja datang ke Indonesia buat dapatin gaji yang besar, kenapa orang kita malah ga boleh. Apalagi itu orang lulusan luar negeri, brarti kemampuan akademiknya ga kalah dengan bangsa lain, buktiny adia bisa lulus kan?. Kalau HRD nya mikir kaya si penulis, wah rakyat Indonesia bakalan jadi kuli terus dong, gaji kecil, keuntungan gede buat perusahaan (asing).
-Banggain nilainya dan di bilang sombong. Aduh ….ni orang belum pernah ngambil mata kuliah seperti matematika lanjut,fisika matematika atau fisika quantum. Coba di kasih bukunya kreizyg yang bikin kita hampir crazy hehehe. Mungkin perlu juga cobain ngambil mata kuliah hat trick, alias 3 kali ngambil ga lulus2. Lulus pun dengan nilai cukup D
. jadi pantas saja kalau banggain hasil yang jarang di dapat orang, apa itu bukan prestasi?. Apalagi kalau kandidatnya fresh grade, kalau ga prestasi akademik mo banggain apalagi?.
Kalau pengalamanku, justru orang2 HRD atau recruiter yang terlalu pengen di hargai. Pada saat wawancara mereka lebih ingin si kandidat menunduk2 seperti pengemis minta kerjaan ke mereka. padahal kalau sudah wawancara dengan user/managernya, biasa-biasa saja.
Kesombongan dan percaya diri itu tipis bedanya,so, bukan saja pinter2 kita menampilkannya tetapi kita juga harus pinter2 menilainya dari orang lain.