Golput
Posted by Joko Dolog on August 7, 2008
Saat ini lagi rame orang membicarakan golput, bahkan di detik.com pun ada kolom pro dan kontra tentang ajakan golput oleh salah satu partai.
Yang lucu adalah si ketua parta atau partainya melarang anggotanya berpartisipasi dalam pemilu, kalau tidak si anggota bakal dikenakan sanksi. Lhoo………ini ya yang namanya demokrasi???? Memilih kan hak asasi tiap warga negara, kenapa si partai melarang-larang segala. Harusnya bisa dituduh melanggar hak asasi anggota partainya yang notabene adalah warga negara indonesia juga. Kalau pilihan golput berasal dari hati nurani sendiri sih OK Ok saja, tapi ya ga perlu partai turun tangan.
Pemilu masih lama,lha kok para pemimpin partai mengajarkan contoh yang ga bagus buat rakyat kecil.Apa pantas orang dari partai2 ini maju jadi presiden?. Masih bakal calon saja sudah kaya gini, gimana nanti kalau jadi presiden?.
Kalau menurutku pribadi ajakan partai golput ini tidak etis, ini sama saja ngajak mati bareng-bareng atau bunuuh diri bareng-bareng. Tidak terlihat niat untuk memberikan yang terbaik buat negara. Kalaupun ada kekecewaan terhadap system, ya sedikit-sedikit ikut memperbaikilah. Partainya aja terpecah-pecah,berantem satu sama lain memperebutkan tahta partai, gimana mau memperbaiki negara?. Ya paling ga rakyat masih bisa memilih yang terbagus diantara yang jelek-jelek.Bukan malah udah jelek, malah diajak mati bunuh diri semua. Itu hanya pendapat pribadiku lho ya..mungkin beda dengan yang lain. Beda kan boleh saja..
.
Jangan tanya apa yang negara berikan padamu, tapi tanyalah apa yang sudah dan bisa kau berikan kepada negaramu.
annee said
masalah golput di Indonesia kali ini memang lagi hangat2nya. kalo menurut aku sih, golput merupakan suatu hal yang sangat penting bagi masyarakat, khususnya pemerintah. karena dengan golput bisa kita lihat apresiasi rakyat terhadap pemerintah, atau dengan kata lain rakyat kurang puas akan pemerintahaan di negeri ini.
mereka sudah bosan dengan segala koar2 dari mulut para pejabat2 yang hanya memikirkan nasib “perutnya”, , , ,