Ksatria Politik
Posted by Joko Dolog on June 8, 2008
Di Amerika,pemilihan kandidat calon presiden dari partai demokrat sudah usai dan hasilnya Obama berhadapan dengan wakil dari partai republik.
Yang menarik perhatian saya adalah bagaimana akhir perseteruan hillary dan obama. Seperti telah diketahui mereka adalah rival saat pencalonan kandidat dari pertai demokrat. Setelah bertarung ketat selama beberapa waktu, hillary dengan besar hati mendukung Obama yang memenangkan pemilihan. Tanpa protes ini itu, Hillarypun mendukung Obama maju ke kancah pertarungan kandidat persiden.
Nah bagaimanakan dengan di Indonesia? Hampir belum pernah kutemui seorang kandidat, baik itu wali kota/bupati,gubernur bahkan presiden, kandidat yang kalah mengakui kekalahannya dengan jiwa ksatria. Pasti ada aja yang di gugat, mulai dari proses penghitungan suara ,mempersoalkan software penghitungan suara KPU, bahkan ada yang mengerahkan massa.
Terkadang aku bertanya-tanya apa niat mereka mencalonkan diri. Yang jelas menurutku bukan untuk membuat daerah lebih baik atau rasa nasionalisme yang tinggi tetapi hanya sekedar mencari “kue” lebih besar. Kenapa aku berpikir seperti itu?. Ya..bisa dilihatlah berapa orang sih yang dengan legowo menerima kekalahannya.Kalau seorang kandidat kalah,yang jelas orang terpilih lebih di percaya rakyatnya karena pemilihan bersifat langsung.Mungkin ada pembagian duit, tetapi itu kan di luar bilik suara, kalau di bilik suara pasti si pemilih menuruti hati nurani.Di luar mungkin dia dukung A, tetapi di bilik suara bisa saja dia berubah memilih B.
Yah….memang Amerika negara kafir (kata sebagian orang), tetapi sikap baik tidak melihat kafir atau bukan. Walau keluar dari pantat ayam, kalau itu telor ya kita makan. Semoga para (calon) kandidat pemimpin bisa belajar dari apa yang terjadi di Amerika dan segera muncul ksatia ksatria politik di Indonesia.