Beberapa waktu lalu muncul berita bahwa UMY (Universitas Muhamadiyah Yogyakarta) telah menemukan BBM synthetic berasal dari air, yang mereka kasih trade mark Banyugeni. Tadi pagi baca di detik, disebutkan bahwa research banyugeni melipatkan Joko, si penemu blue energy. Jadi mana yang bener nih? Banyu geni betul hasil riset orang2 UMY kah?
barusan browsing2 dapat situs www.banyugeni.com. Disitu di terangkan dasar teorinya proses banyugeni. Dasar teori tersebut adalah ayat-ayat alquran. Salah satu ayat menyebutkan terdapat api dalam laut. Tetapi tidak disebutkan apakah air laut, tanahnya, atau angin laut yang terdapat api.
Nah, dari ayat ini kemudian muncul anggapan bahwa air laut bisa dibuat BBM.
Ah….KAsihan Al Quran, di kutip dan diinterpretasikan seenaknya. Kalau memang para peneliti UMY benar bisa membuat BBM dari air laut, two thumbs up.
Kalau menurutku,yang dimaksud dari ayat tersebut, bukannya dari air laut dapat di buat api. Tetapi di dasar lautlah ada api. Mungkin para earth scientist akan dengan mudah memahami ini karena tentu familiar dengan kata spreading centre yang berada di dasar laut,dimana arus(panas) konveksi dari mantle bumi keluar sehingga mendorong lempeng tektonik di ke dua sisi spreading centre. Nah kemudian teori ini dibahas lebih detail di platet tectonic theory. Jadi bukan dari air laut bisa di bikin api, karena air dan api adalah 2 sifat yang berlawanan. Dan seperti aku bahas sebelumnya, tanpa campuran apa-apa lagi air hanya mampu menghasilkan H dan O. OK, katakanlah ada kandungan CO2 dalam air, tetapi seberapa besar dia mampu di jebak C nya untuk kemudian dibuat rantai hydro carbon sebagai bahan BBM?.
Seandainya benar banyugeni terbukti, seluruh rakyat Indonesia dan dunia akan berterima kasih kepada para peneliti tersebut.
Sangat disayangkan para peneliti tidak mengungkapkan hasil temuannya di forum ilmiah sebagai layaknya peneliti atau pengajar, tetapi lebih memilih cara seorang dukun klenik yang membuat keajaiban dengan cara yang masuk akal.
Kalau tidak salah, ITB beberapa waktu lalu mengusulkan bio fuel dari buah jarak. Walau mungkin akhirnya di anggap kurang ekonomis (untuk saat ini), tetapi mereka melakukan cara ilmiah sebagai layaknya peneliti. Mulai dari ditemukmukannya bio ethanol dari buah jarak dan beberapa publikasi ilmiah di buletin ilmiah juga. Bahkan sempat diuji coba lewat janthropa tournya dari Bali-Jawa (CMIIW).
Well, seorang peneliti tentu saja beda dengan dukun klenik….Jadi berlakulah sebagai peneliti jika anda peneliti dan berlakulah selayaknya dukun bila anda duku..:)