Saat ini sedang ramai orang membincangkan Blue Energy sebagai bahan bakar murah yang di temukan Joko (lupa nama belakangnya). Sewaktu dulu dia menunjukkan demo di depan presiden, dia bilang Blue Energy terbuat dari air. Waktu itu anggap guyonan saja.
Kemarin sempat baca di detik (lupa lagi link nya), rekan Joko, Iswahyudi kalau ga salah namanya, yang katanya alumni Geologi UGM (CMIIW) mengatakan Blue Energy berasal dari hydro carbon.Beritanya ada disini. Lho, mana yang bener nih??. Lha wong penemunya sendiri mengatakan berasal dari air kok. Beritanya disini. Kalau air jadi minyak itu anggap guyonan(berdasarkan logikaku saat ini).Kalau hydro carbon, ya mungkin bisa karena minyak sendiri merupakan senyawa hydrocarbon.
Aku ingat-ingat lagi pelajaran kimia SMA ditambah 2 SKS di TPB(perkulihan tingkat 1).Kalau air yang senyawa kimia H2O, bisa di urai menjadi H+ dan O2- sengan suatu proses. Mungkin unsur H nya ini bisa di pakai untuk membuat senyawa hydro carbon seperti yang dimaksud alumni Geology UGM tersebut diatas.Tapi kemudian, darimana unsur C(arbon)nya?. Seingatku senyawa dasar minyak bumi adalaah C2H2n yang nama senyawanya berakhiran ana, seperti ethana,methana,prophana, yang nama-namanya berdasarkan jumalh nilai n nya. Kemudian karena senyawa -ana berbentuk gas, perlu di ikatkan dengan senyawa lain supaya menjadi cairan, senyawa itu adalah dari golongan alkohol. Hasil pencampurannya menjadilah senyawa anol, seperti methanol,ethanol dll.
Nah, proses pembentukan menjadi hydro carbon di pasaran pun tidaklah gampang. Terus bagaimana H2O dirubah menjadi bensin/solar yang notabene adalah senyawa hydrocarbon?
Jangankan para pakar/orang pinter yang tahu torinya dengan matang, aku yang hanya mengingat pelajaran SMA saja menganggap janggap temuan Blue Energy versi Joko ini.
Atau mungkin ditemukan bensin/solar yang bukan senyawa hydrocarbon?. Terlepas dari pro dan kontra, kalau temuan ini benar, maka penemunya layak mendapat penghargaan setinggi-tingginya. Kalau ternyata bohong belaka, ya wajib di hukum karena telah melakukan kebohongan publik, bahkan presiden pun terbohongi.
Sepatutnyalah si penemu mengungkapkan hasil temuannya secara transparan, jadi tidak dianggap klenik belaka.