Pagi ini baca berita di detik tentang harga beras internasional naik dan pemerintah mulai kelimpungan.
Tercenung aku baca itu…..teringat aku masa di Sekolah Dasar yang selalu di cekokin doktrin indonesia adalah negara agraris dan indonesia adalah negara maritim. Teringat pula sekian tahun yang lalu aku lihat di TV, kalau ga salah masih TVRI, Indonesia mendapat penghargaan dari FAO sebagai negara swa sembada pangan yang mampu memenuhi kebutuhan pokoknya sendiri..hmmmm…trus sekarang? kemana itu semua?
Dulu sekali, bahkan VOC pun datang ke Indonesia karena hasil buminya, Pramoedya mengatakan di novelnya bahwa produk hasil bumi yang paling laku saat itu adalah gula selain rempah-rempah yang memang di incar dari awal.
Trus bagaimana sekarang? masihkan indonesia negara agraris? Bagaimana kehidupan petani-petaninya?
Sempat aku baca “Hari gini, siapa yang mau jadi petani?”. Sebenarnya sayang kalau dunia pertanian ditinggalkan, apalagi menjadi petani itu menyenangkan, bergelut dg lumpur.Aku pernah mengalaminya dulu.
Tetapi kenyataan yang ada sekarang adalah hidup sebagai petanipun tidaklah mudah. Apalagi di pulau jawa ini, tanah yang di miliki petanipun terbatas.Di kampungku dulu, tiap petani rata-rata hanya punya sawah seluas 5000m2, bahkan banyak yang punya lebih sempit. Seingatku untuk tanah seluas kurang lebih 2500m2, sangatlah kurang untuk menyandarkan hidup dari hanya bertani, ini aku ambil contoh petani tradisonal dikampungku yang tanahnya selalu ditanami padi di musim hujan dan palawija(kedelai atau kacang hijau) di musim kemarau. Setelah panen dan hasilnya di jual (setelah disisihkan beberapa karung untuk hidup), duit yang di dapat sangatlah minim.Duit segitu harus nunggu sekitar 3 bulan. Setelah itu habis lagi untuk biaya operasional seperti membajak dan menanam. Yang paling banyak menyita anggaran adalah pupuknya. Pupuk selalu naik dari tahun ke tahun, entah apa kebijakan pemerintah sebenarnya tentang pupuk, tapi tetep saja tidak bisa menjangkau masyarakat tani di pedesaaan.
Masalah lain yang muncul adalah waktu panen, biasanya harga jual gabahpun tidak seberapa. Jadi kesimpulannya, uang hasil penjualan gabah yang tidak seberapa, segera habis untuk biasaya tanam selanjutnya, bagaimana bisa buat bayar sekolah anak, beli motor dan sebagainya? itulah kenapa orang makin enggan menjadi petani murni. Yang ada sekarang adalah orang bermodal yang pengen jadi petani, ini lain lagi ceitanya.
Aku sempat berangan-angan, daripada pemerintah membeli beras dari thailand atau vietnam, kenapa tidak disubsidikan ke petani negeri sendiri. Caranya harga jual gabah di naikin, kalau perlu lebih tinggi dari harga beras, kemudia duit yang mau dipakai buat import beras dialihkan untuk subsidi beras. Jadi petani pendapatannya meningkat, harga beras juga tetap murah. Tapi apa mungkin? bukannya dengan imporrt beras bisa dijadikan proyek subur oleh orang atau kalangan tertentu untuk menimbun kekayaan diatas penderitaan rakyat tani.
Ada juga sempat aku dengar orang bilang ” kenapa tidak transmigrasi saja, kan tanah masih luas di pulau jawa sana”. Transmigrasipun tidak selalu mendapat lahan bagus buat bertani, bahkan di beberapa daerah hanya bagus untuk berladang. Kalimantan dan sumatera menurutku banyak lahan yang tidak cocok untuk pertanian tradisional seperti di jawa karena kondisi tanahnya yang bergambut dan bekas rawa-rawa. Tidak tau kalau sulawesi atau pulau lainnya, belum sempat ngunjungin sih hehehe…..
Kalau aku bandingkan dengan negeri tetangga, Indonesia ketinggalan langkah yang hanya bangga pada masa lampau sebagai indonesia yang agraris,tonggak kayu pun jadi tanaman…itu dulu..dulu sekali…..
Aku tidak tau kebijakan negara thailand dan vietnam sebagai negara pengeksport beras.Tetapi yang jelas waktu aku disana, aku dapat jumpai hasil bumi yang melimpah. Aku dengar sih mereka negara yang mempunyai perkembangan agikultura tercepat di asia tenggara. Padahal kondisi geografis Indonesia tidak jauh berbeda, bahkan mungkin tanah di indonesia lebih subur karena ada vulcanic belt yang menghasilkan abu vulcanic yang katanya bagus untuk pertanian. So kesalahannya adalah……….?? Tentu saja di systemnya….
Bagaimana vietnam yang baru merdeka tahun 75 mampu melejit, bagaimana china juga bisa melejit menjadi negara industri segala hal terutama elektronik? tetntu saja pemerintah yang mendukung bahkan memaksa rakyatnya hidup di jalan itu.Dan yang jelas negarawannya tahu apa yang mereka punyai dari negaranya. Sama seperti Singapore, dia tidak mempunyai apa-apa dari hasil buminya, makanya tidak di bikinnya kebijakan yang ke arah itu. Mereka janya punya sebidang tempat yang strategis, maka di bikinnyalah begara mall.
Bagaimana dengan negarawan Indonesia? Apakah mereka betul-betul tahu tentang negaranya?Mungkin mereka tahu, tapi apakah pengetahuannya itu mau di pergunakan untuk keperluan rakyat?? hehehe..ga tau lah yaw…..
Sebenarnya Indonesia mempunyai segalanya, betul-betul seperti permata di khatulistiwa. Tanahnya yang subur bahkan tonggak kayupun bisa jadi tanaman. Hasil tambangnya seperti batubara ada di hampir merata, emas dan tembaga di papua yang mampu bikin kaya amerika lewat tangannya FMI, Intan juga ada di kalimantan. Minyak dan gas buminya pun banyak. Apalagi kalau teori minyak bumi yang ada di fore arc basin benar-benar terbukti. Disinyalir cadangannya melebihi saudi. Sebgitu kayanya, terus bagaimana dengan rakyatnya? Apa betul-betul menikmati?? Kemarin aku baca seorang ibu hamil meninggal kelaparan. Lha kok bisa??? Seperti seekor tikus mati kelaparan di lumbung padi yang terisi penuh……